Langsung ke konten utama

Postingan

Makhluk yang Paling Buruk

Postingan terbaru

Menulis?

Pantai Si Pelot, Malang Menulis? Bukan, ini hanya posenya saja yang menulis. Hahaha Bolpoin yang aku pegang ini hanya diam dan mematung saja. Dia tak bisa menari di atas kertas putih. Pantas saja bolpoin ini hanya diam saja karena memang gak digerakkan oleh tangan dan jemariku. Mungkin tangan dan jari-jari ini sedang kram. Ah, sepertinya gak ada yang salah dengan tangan dan jari-jariku ini karena dia memang tidak diperintahkan untuk bergerak. Kalau begitu otakku yang kram dong. Wah gawat ini, jangan sampai ini dibiarkan terlalu lama. Padahal disaat seperti itu imajinasiku sedang melayang dan inspirasiku sedang bermunculan. Sayang sekali kalau tidak dituangkan dalam bentuk tulisan. Kalau hanya diingat dalam memori otak, itu hanya akan seperti RAM yang cuma bisa mengingat sementara. Sedangkan tulisan itu ibarat ROM yang bisa dibuka kapan saja dan dimana saja selama tulisan itu tidak terhapus atau bukunya hilang. Hehe Inspirasi yang sama tidak akan datang dua kali. Ma...

Kebahagiaan

Bahagia itu sederhana. Begitulah kalimat yang sering kita dengar. Sontak sebagian orang langsung mengiyakan kalimat itu, termasuk saya juga sebenarnya. Hehe Itu terjadi karena dalam konsep kita adalah membahagiakan diri kita sendiri. Ya memang sederhana, karena untuk bahagia cukup dengan melakukan hal-hal yang bisa membahagiakan diri kita sendiri. Lantas bagaimana dengan orang-orang yang ada di sekitar kita? Apakah mereka juga ikut bahagia dengan kebahagiaan yang kita rasakan ? Bisa iya, bisa juga tidak atau bahkan bisa juga mereka malah membenci kita. Karena menganggap kita egois dengan kebahagiaan kita sendiri. Pernahkah kita memikirkan hal itu? Saya juga baru memikirkan hal itu beberapa waktu yang lalu. Hehe Mengapa kita tidak melakukan sesuatu yang selain bisa membahagiakan diri sendiri juga bisa membuat orang-orang di sekitar kita menjadi bahagia? Yah itulah kebahagiaan yang sesungguhnya. Bahagia bersama dengan orang-orang di sekitar kita. Dalam sabda Rasululla...

Jadilah Manusia

Manusia adalah makhluk Allah yang secara sikap dan perilakunya berada diantara malaikat dan syetan. Jika seorang manusia melakukan kebaikan dan ketaatan kepada Allah, maka derajatnya bisa saja lebih tinggi dari malaikat. Tetapi sebaliknya, jika seorang manusia melakukan keburukan, maka bisa saja derajatnya lebih rendah dari syetan. Potensinya sama besar untuk menjadi salah satunya.Tapi manusia punya nurani yang tidak dimiliki oleh kedua makhluk Allah tersebut . Sifat dasar dari nurani manusia mendorong manusia untuk kembali kepada Allah. Tapi lagi-lagi menusia dilengkapi dengan perangkat lain yang bisa mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nuraninya. Perangkat itu bernama nafsu. Nafsu diciptakan oleh Allah untuk bisa menghidupi raga/jasad. Tanpa nafsu, raga/jasad tidak akan bisa hidup. Tetapi ketika nafsu itu tidak dikendalikan, ia akan menjadikan manusia sebagai makhluk yang hina.

Hitam dan Gelap

Hitam tak selalu buruk. Gelap tak selalu buruk. Hitam dan gelap itu ada karena adanya putih dan terang. Suatu saat dibutuhkan warna hitam agar yang putih bisa tampak. Suatu ketika dibutuhkan kegelapan agar cahaya yang kecil tampak terang benderang. Semua keadaan itu harus saling berdialektika dan bekerjasama untuk membentuk suatu harmoni yang indah. Tidak ada yang buruk di dunia ini. Semua akan bernilai baik jika dilakukan pada tempat dan waktu yang tepat. Sesuatu yang biasanya dianggap buruk akan bernilai baik jika dilakukan pada waktu dan tempat yang tempat, begitu pun sebaliknya. Let's do everything in the right time and the right place. #CoretanKecil

Hati dan Kaca

Puncak B29, Lumajang Hati itu ibarat kaca. Kaca yang bisa berbentuk cermin atau lensa. Cermin bersifat memantulkan dan lensa yang bersifat membiaskan. Lantas berasal dari mana cahaya yang akan dipantulkan atau dibiaskan? "Cahaya" itu berasal dari Allah. Ya, "Cahaya" yang sejati hanya berasal dari Allah. Kita hanya bisa memantulkan atau membiaskan "Cahaya" itu. Memantulkan untuk alam sekitar kita dan membiaskan untuk diri kita sendiri. Seberapa besar "Cahaya" yang bisa kita pantulkan dan biaskan t ergantung dari seberapa besar kaca yang ada. Karena cahaya yang dipancarkan selalu tetap dan tak terbatas. Allah menerangi seluruh alam semesta dengan "Cahaya-Nya" (Surat An-Nur Ayat 35). Seberapa besar "Cahaya" Allah yang bisa kita terima bergantung pada seberapa besar kelapangan hati yang kita miliki. Semoga kita bisa memiliki kelapangan hati agar bisa menerima "Cahaya" Allah untuk kebaikan diri sendiri dan...

Hakikat Ilmu

Dari manakah engkau memeroleh ilmu? Dari bumi Allah. Dari manakah pusat ilmu yang dipinjamkan-Nya itu? Dari sumur firman yang namanya Al-Qur'an. Bagaimana kamu memperoleh airnya? Dari teknologi rohani aku timbanya dan dzikir adalah talinya. Bagaimana menjaga agar tak bocor timbamu? Dengan syukur, rasa tak punya di hadapan-Nya, serta menaburkan kembali ilmu itu kepada Allah melalui bumi dan segenap penghuninya. Maha Agung Allah dengan segala ilmu yang ditebarkan di seluruh pen juru dunia. -Emha Ainun Nadjib