Langsung ke konten utama

Makhluk yang Paling Buruk

Panderman, Batu
Suatu ketika, seorang bapak menyuruh anaknya pergi dari rumahnya untuk mencari makhluk yang paling buruk

Bapaknya berkata,” Wahai anakku, kamu berjalanlah di muka bumi dan carilah makhluk yang paling buruk. Kalau sudah ketemu, bawalah kesini dan jangan pulang dulu sebelum kamu menemukannya.”

Anaknya menjawab,” Iya Pak, aku akan berjalan menyusuri seluruh permukaan bumi dan menemukan apa yang Bapak minta.”

Dalam perjalanannya, dia bertemu dengan seorang pelacur. Anak itu berkata,”Dialah makhluk Allah yang paling buruk. Dia selalu melakukan dosa besar.”

Ketika dia akan mendatangi, muncul perasaan dalam hatinya,”Oh belum. Karena dia suatu saat bisa taubat. Bukan, bukan paling buruk.”

Dia terus berjalan di muka bumi dan bertemu dengan koruptor, maling, perampok, pembunuh, dan lain-lain tapi selalu muncul perasaan itu. Sampai akhirnya setelah sekian bulan perjalanannya, dia ketemu seekor anjing. Anjing itu kotor, bulukan, penyakitan, kurus, dan jelek sekali. Kemudian di menyimpulkan, ini yang paling buruk. Sudah najis dan paling jelek. Kemudian anjing itu dia tangkap, ditali dan dia bawa pulang. Kemudian dia berjalan menuju rumahnya. Ketika mendekati rumahnya, tiba-tiba muncul dalam pikirannya,” Lantas apa salahnya anjing ini? Kenapa dia paling buruk? Dia tidak pernah berbuat dosa. Dia memang diciptakan seperti ini.” Akhirnya anjing tersebut dilepas.
Kemudian dia pulang dengan dirinya sendiri menghadap bapaknya.

Bapaknya bertanya,”Mana makhluk yang paling buruk?”

Anak itu menjawab,”Saya makhluk yang paling buruk.”

“Kenapa kamu mengatakan seperti itu?” tanya bapaknya.

“Semua orang yang pernah saya lihat buruk masih punya kemungkinan untuk bertaubat dan melakukan kebaikan. Sementara saya hanya melihat mereka. Saya tidak pernah melihat diri saya sendiri. Maka sayalah yang paling buruk. Karena aku merasa yang paling buruk, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi makhluk yang baik di hadapan Allah.” Jawab anak itu dengan tegas.

#PengingatDiri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sopir Bus yang Beruntung

Di pintu akhirat seorang malaikat menanyai seorang Sopir Bus. “Apa kerjamu selama di dunia?” tanya malaikat itu. “Saya Sopir Bus, Malaikat.” lalu Malaikat itu memberikan kamar yang mewah untuk Sopir Bus tersebut dan peralatan yang terbuat dari emas. Lalu datang seseorang lagi. “Apa kerja kamu di dunia?” tanya malaikat tersebut. “Saya Kepala Daerah dan juga juru dakwah, Malaikat.” lalu Malaikat itu memberikan kamar yang kecil dan peralatan dari kayu. Kemudian orang tersebut protes. “Pak kenapa kok saya yang Kepala Daerah sekaligus juru dakwah mendapatkan yang lebih rendah dari seorang Sopir Bus?” Dengan tenang malaikat itu menjawab: “Begini Pak. Pada saat Bapak ceramah, Bapak membuat orang-orang semua ngantuk dan tertidur sehingga melupakan Tuhan. Sedangkan pada saat Sopir Bus mengemudi dengan ngebut, ia membuat orang-orang berdoa”. # JustForFun

Hitam dan Gelap

Hitam tak selalu buruk. Gelap tak selalu buruk. Hitam dan gelap itu ada karena adanya putih dan terang. Suatu saat dibutuhkan warna hitam agar yang putih bisa tampak. Suatu ketika dibutuhkan kegelapan agar cahaya yang kecil tampak terang benderang. Semua keadaan itu harus saling berdialektika dan bekerjasama untuk membentuk suatu harmoni yang indah. Tidak ada yang buruk di dunia ini. Semua akan bernilai baik jika dilakukan pada tempat dan waktu yang tepat. Sesuatu yang biasanya dianggap buruk akan bernilai baik jika dilakukan pada waktu dan tempat yang tempat, begitu pun sebaliknya. Let's do everything in the right time and the right place. #CoretanKecil

Optimisme

Pantai Papuma, Jember Optimisme, itulah sifat yg terkadang muncul dalam kehidupan kita. Sikap optimis telah memandang hidup kita sebagai anugerah terbaik. Tak ada sesuatu yg terjadi begitu saja dan mengalir sia-sia. Pasti ada sebab, maksud, dan tujuannya. Mungkin suatu saat kita mengalami pengalaman buruk dan tak mengenakkan. Hal itu disebut sebagai keburukan karena kita hanya melihat dari salah satu sisi saja. Bila kita bisa melihat ke sisi yang lain, kita akan menemukan pemandangan yang jauh ber beda. Kita tak harus menjadi orang yang terus tersenyum dan menampakkan wajah yang ceria dibalik kekeruhan hati. Optimisme terletak di dalam hati, bukan hanya terpampang di wajah. Jika hati kita sebening kaca, maka aura yang terpancar di wajah akan semakin terang. Jadilah optimis, karena hidup ini terlalu rumit untuk dipandang dengan mengerutkan alis. Setiap tetes air yang keluar dari mata air tahu mereka mengalir menuju ke laut. Meski harus melalui anak sungai, selokan,...