Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Makhluk yang Paling Buruk

Panderman, Batu Suatu ketika, seorang bapak menyuruh anaknya pergi dari rumahnya untuk mencari makhluk yang paling buruk Bapaknya berkata,” Wahai anakku, kamu berjalanlah di muka bumi dan carilah makhluk yang paling buruk. Kalau sudah ketemu, bawalah kesini dan jangan pulang dulu sebelum kamu menemukannya.” Anaknya menjawab,” Iya Pak, aku akan berjalan menyusuri seluruh permukaan bumi dan menemukan apa yang Bapak minta.” Dalam perjalanannya, dia bertemu dengan seorang pelacur. Anak itu berkata,”Dialah makhluk Allah yang paling buruk. Dia selalu melakukan dosa besar.” Ketika dia akan mendatangi, muncul perasaan dalam hatinya,”Oh belum. Karena dia suatu saat bisa taubat. Bukan, bukan paling buruk.” Dia terus berjalan di muka bumi dan bertemu dengan koruptor, maling, perampok, pembunuh, dan lain-lain tapi selalu muncul perasaan itu. Sampai akhirnya setelah sekian bulan perjalanannya, dia ketemu seekor anjing. Anjing itu kotor, bulukan, penyakitan, kurus, dan jelek ...

Menulis?

Pantai Si Pelot, Malang Menulis? Bukan, ini hanya posenya saja yang menulis. Hahaha Bolpoin yang aku pegang ini hanya diam dan mematung saja. Dia tak bisa menari di atas kertas putih. Pantas saja bolpoin ini hanya diam saja karena memang gak digerakkan oleh tangan dan jemariku. Mungkin tangan dan jari-jari ini sedang kram. Ah, sepertinya gak ada yang salah dengan tangan dan jari-jariku ini karena dia memang tidak diperintahkan untuk bergerak. Kalau begitu otakku yang kram dong. Wah gawat ini, jangan sampai ini dibiarkan terlalu lama. Padahal disaat seperti itu imajinasiku sedang melayang dan inspirasiku sedang bermunculan. Sayang sekali kalau tidak dituangkan dalam bentuk tulisan. Kalau hanya diingat dalam memori otak, itu hanya akan seperti RAM yang cuma bisa mengingat sementara. Sedangkan tulisan itu ibarat ROM yang bisa dibuka kapan saja dan dimana saja selama tulisan itu tidak terhapus atau bukunya hilang. Hehe Inspirasi yang sama tidak akan datang dua kali. Ma...

Kebahagiaan

Bahagia itu sederhana. Begitulah kalimat yang sering kita dengar. Sontak sebagian orang langsung mengiyakan kalimat itu, termasuk saya juga sebenarnya. Hehe Itu terjadi karena dalam konsep kita adalah membahagiakan diri kita sendiri. Ya memang sederhana, karena untuk bahagia cukup dengan melakukan hal-hal yang bisa membahagiakan diri kita sendiri. Lantas bagaimana dengan orang-orang yang ada di sekitar kita? Apakah mereka juga ikut bahagia dengan kebahagiaan yang kita rasakan ? Bisa iya, bisa juga tidak atau bahkan bisa juga mereka malah membenci kita. Karena menganggap kita egois dengan kebahagiaan kita sendiri. Pernahkah kita memikirkan hal itu? Saya juga baru memikirkan hal itu beberapa waktu yang lalu. Hehe Mengapa kita tidak melakukan sesuatu yang selain bisa membahagiakan diri sendiri juga bisa membuat orang-orang di sekitar kita menjadi bahagia? Yah itulah kebahagiaan yang sesungguhnya. Bahagia bersama dengan orang-orang di sekitar kita. Dalam sabda Rasululla...

Jadilah Manusia

Manusia adalah makhluk Allah yang secara sikap dan perilakunya berada diantara malaikat dan syetan. Jika seorang manusia melakukan kebaikan dan ketaatan kepada Allah, maka derajatnya bisa saja lebih tinggi dari malaikat. Tetapi sebaliknya, jika seorang manusia melakukan keburukan, maka bisa saja derajatnya lebih rendah dari syetan. Potensinya sama besar untuk menjadi salah satunya.Tapi manusia punya nurani yang tidak dimiliki oleh kedua makhluk Allah tersebut . Sifat dasar dari nurani manusia mendorong manusia untuk kembali kepada Allah. Tapi lagi-lagi menusia dilengkapi dengan perangkat lain yang bisa mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nuraninya. Perangkat itu bernama nafsu. Nafsu diciptakan oleh Allah untuk bisa menghidupi raga/jasad. Tanpa nafsu, raga/jasad tidak akan bisa hidup. Tetapi ketika nafsu itu tidak dikendalikan, ia akan menjadikan manusia sebagai makhluk yang hina.

Hitam dan Gelap

Hitam tak selalu buruk. Gelap tak selalu buruk. Hitam dan gelap itu ada karena adanya putih dan terang. Suatu saat dibutuhkan warna hitam agar yang putih bisa tampak. Suatu ketika dibutuhkan kegelapan agar cahaya yang kecil tampak terang benderang. Semua keadaan itu harus saling berdialektika dan bekerjasama untuk membentuk suatu harmoni yang indah. Tidak ada yang buruk di dunia ini. Semua akan bernilai baik jika dilakukan pada tempat dan waktu yang tepat. Sesuatu yang biasanya dianggap buruk akan bernilai baik jika dilakukan pada waktu dan tempat yang tempat, begitu pun sebaliknya. Let's do everything in the right time and the right place. #CoretanKecil

Hati dan Kaca

Puncak B29, Lumajang Hati itu ibarat kaca. Kaca yang bisa berbentuk cermin atau lensa. Cermin bersifat memantulkan dan lensa yang bersifat membiaskan. Lantas berasal dari mana cahaya yang akan dipantulkan atau dibiaskan? "Cahaya" itu berasal dari Allah. Ya, "Cahaya" yang sejati hanya berasal dari Allah. Kita hanya bisa memantulkan atau membiaskan "Cahaya" itu. Memantulkan untuk alam sekitar kita dan membiaskan untuk diri kita sendiri. Seberapa besar "Cahaya" yang bisa kita pantulkan dan biaskan t ergantung dari seberapa besar kaca yang ada. Karena cahaya yang dipancarkan selalu tetap dan tak terbatas. Allah menerangi seluruh alam semesta dengan "Cahaya-Nya" (Surat An-Nur Ayat 35). Seberapa besar "Cahaya" Allah yang bisa kita terima bergantung pada seberapa besar kelapangan hati yang kita miliki. Semoga kita bisa memiliki kelapangan hati agar bisa menerima "Cahaya" Allah untuk kebaikan diri sendiri dan...

Hakikat Ilmu

Dari manakah engkau memeroleh ilmu? Dari bumi Allah. Dari manakah pusat ilmu yang dipinjamkan-Nya itu? Dari sumur firman yang namanya Al-Qur'an. Bagaimana kamu memperoleh airnya? Dari teknologi rohani aku timbanya dan dzikir adalah talinya. Bagaimana menjaga agar tak bocor timbamu? Dengan syukur, rasa tak punya di hadapan-Nya, serta menaburkan kembali ilmu itu kepada Allah melalui bumi dan segenap penghuninya. Maha Agung Allah dengan segala ilmu yang ditebarkan di seluruh pen juru dunia. -Emha Ainun Nadjib

Tautan Hati

Tautan yang berarti hubungan, kaitan, atau gabungan. Menautkan bermakna menghubungkan, mengkaitkan, menggabungkan, atau menyambungkan dua buah benda atau lebih menjadi satu kesatuan. Dalam menautkan suatu benda, dibutuhkan benda lain sebagai alat/perantara untuk bisa merekatkan. Misalnya menautkan besi dengan besi menggunakan las. Menautkan kertas dengan kertas menggunakan lem. Menautkan kayu dengan kayu menggunakan paku. Menautkannya juga harus menggunakan perant ara yang benar. Misalnya menautkan kertas dengan kertas menggunakan las. Apa yang akan terjadi? Tidak akan bisa ditautkan. Bagaimana untuk menautkan hati? Menautkan hati juga perlu perantara. Lalu apa perantaranya? Ya, perantara untuk menautkan hati adalah dengan cinta. Cinta memang bisa menautkan hati, tapi itu tidak akan bertahan lama jika cintanya diberikan kepada makhluk. Karena ada yang menggenggam dan membolak-balikkan hati, yaitu Allah SWT. Maka dari itu Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita sebuah doa ...

Sopir Bus yang Beruntung

Di pintu akhirat seorang malaikat menanyai seorang Sopir Bus. “Apa kerjamu selama di dunia?” tanya malaikat itu. “Saya Sopir Bus, Malaikat.” lalu Malaikat itu memberikan kamar yang mewah untuk Sopir Bus tersebut dan peralatan yang terbuat dari emas. Lalu datang seseorang lagi. “Apa kerja kamu di dunia?” tanya malaikat tersebut. “Saya Kepala Daerah dan juga juru dakwah, Malaikat.” lalu Malaikat itu memberikan kamar yang kecil dan peralatan dari kayu. Kemudian orang tersebut protes. “Pak kenapa kok saya yang Kepala Daerah sekaligus juru dakwah mendapatkan yang lebih rendah dari seorang Sopir Bus?” Dengan tenang malaikat itu menjawab: “Begini Pak. Pada saat Bapak ceramah, Bapak membuat orang-orang semua ngantuk dan tertidur sehingga melupakan Tuhan. Sedangkan pada saat Sopir Bus mengemudi dengan ngebut, ia membuat orang-orang berdoa”. # JustForFun

Optimisme

Pantai Papuma, Jember Optimisme, itulah sifat yg terkadang muncul dalam kehidupan kita. Sikap optimis telah memandang hidup kita sebagai anugerah terbaik. Tak ada sesuatu yg terjadi begitu saja dan mengalir sia-sia. Pasti ada sebab, maksud, dan tujuannya. Mungkin suatu saat kita mengalami pengalaman buruk dan tak mengenakkan. Hal itu disebut sebagai keburukan karena kita hanya melihat dari salah satu sisi saja. Bila kita bisa melihat ke sisi yang lain, kita akan menemukan pemandangan yang jauh ber beda. Kita tak harus menjadi orang yang terus tersenyum dan menampakkan wajah yang ceria dibalik kekeruhan hati. Optimisme terletak di dalam hati, bukan hanya terpampang di wajah. Jika hati kita sebening kaca, maka aura yang terpancar di wajah akan semakin terang. Jadilah optimis, karena hidup ini terlalu rumit untuk dipandang dengan mengerutkan alis. Setiap tetes air yang keluar dari mata air tahu mereka mengalir menuju ke laut. Meski harus melalui anak sungai, selokan,...

Gema di Suatu Ketinggian

Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran, Yogyakarta Diantara hembusan angin semilir yang khas di daerah pegunungan. Kuteriakkan sebuah kata yang memecah keheningan suasana pegunungan. Aaaa...!!! Teriakan itu lantas dibalas dengan suara yang persis sama dari kejauhan. Aaaa...!!! Suara itulah yang dinamakan gema, yang melambangkan salah satu bentuk jalan kehidupan. Kehidupan memberikan umpan balik atas setiap ucapan dan tindakan kita. Entah itu akan terjadi dalam waktu dekat atau pada rentang waktu yang lama. Kehidupan kita adal ah sebuah pantulan atau bayangan dari tindakan yang kita lakukan. Jika kita ingin mendapatkan lebih banyak cinta, maka ciptakan cinta di dalam hati kita. Bila kita ingin dicintai Allah, maka tumpahkan seluruh rasa cinta kita dengan jalan takwa kepada-Nya. Allah akan memberikan kembali atas segala yang telah kita berikan kepada-Nya. Takdir bukanlah sebuah kebetulan, tapi bisa jadi itu adalah bayangan dari diri kita. # CoretanKecil